RSS
Sampingan
14 Mar


Istana Lawang Agung Bukit Indra Kencana atau yang lebih populer dengan sebutan Istana Kuning.

 

.

Dayak chief in full traditional war dress
Dayak man in possession of two heads on strings
Gallery inside a Kayan Dayak house with skulls and weapons lining the wall

 

Ibu Dayak warrior headhunters from Longnawan, North Borneo
Medicine men of the Dusun-Dayaks in West Borneo
 
 

Nederlandsch-Indisch Leger Koninklijk (KNIL) in Borneo


KNIL adalah singkatan dari bahasa Belanda; het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, atau secara harafiah: Tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia-Belanda, banyak di antara anggota-anggotanya yang adalah penduduk bumiputra di Hindia-Belanda dan orang-orang Indo-Belanda, bukan orang-orang Belanda.

Pulau Kalimantan (Borneo) sebagai salah satu wilayah jajahan Belanda maka serdadu KNIL melakukan ekspedisi ke pedalaman Kalimantan, secara khusus serdadu KNIL juga di kirim untuk meredam Pemberontakan di Kalimantan Barat (1850-1854) dan Perang Banjar (1859-1905).

Spoiler for Serdadu KNIL di Kuala Kurun, Kalteng tahun 1935, menurut keterangan foto serdadu KNIL ini berasal dari suku Batak.:

Spoiler for Jip KNIL, pemandangan yang khas di jalan-jalan Banjarmasin tahun 1945.:

Spoiler for KNIL latihan militer selama konsolidasi administratif di wilayah hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur, tahun 1900.:

Spoiler for Sebuah kamp militer KNIL di sungai Barito di Kalimantan Tengah. 1890-1900:

Spoiler for Kapal KNIL S.S. Selaton menyusuri Sungai Barito, Kalimantan Tengah, tahun 1917.:

Spoiler for Serdadu KNIL beristirahat di sebuah rumah penduduk di Puruk Tjahu, Kalteng, tahun 1908.:

Spoiler for Barisan serdadu KNIL dari Kandangan memperingati kunjungan Yang Mulia Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. D. Fock di Kalimantan Selatan (April 1924).:

Spoiler for Civil servant J.P.J. Barth with his suite of KNIL military men, Central-Borneo 1900.:

Spoiler for KNIL Soldiers and officials pose between Borneo Dayak warriors with machetes:

 

d:

 

Spoiler for Washing for gold in the river:

Kegiatan menambang emas sudah sejak dulu dilakukan oleh masyarakat di Kapuas. Gambar diatas yang diambil oleh Bär, Gottlob (Mr) pada tahun 1932, menunjukkan bahwa sejak dulu Kapuas memang cukup dikenal dengan emasnya. Sampai sekarang pun kegiatan penambangan emas masih berlangsung. Namun masyarakat yang mencari emas makin menuju ke daerah hulu. Diantara efek negatif dari penambangan emas ini adalah masuknya air raksa ke air sungai, sungai menjadi keruh, terjadi pendangkalan beberapa bagian sungai karena pemindahan tanah atau pasir ke bagian lain dari sungai yang disedot.

he Prayer-house in Penda Muntai

Spoiler for :

(Courtesy of mission 21, evangelisches missionswerk basel)


Foto diatas diambil sekitar tahun 1928-1940 oleh Johann Wilhelm Göttin di Desa Penda Muntai, yang sekarang berada pada Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Foto ini merupakan bagian dari arsip resmi mengenai Borneo Tenggara yang mencakup agama Islam dan tradisi. Belum didapat informasi mengenai kapan dimulainya penyebaran Islam di daerah ini.

Christian family in the village of Kuala Kapuas

Spoiler for :

Keluarga Kristen di desa Kuala Kapuas


Foto diatas diambil oleh Mr. Martin Schernus antara tahun 1908/1920. Foto ini merupakan bagian dari koleksi foto-foto Basel Mission dengan subyek: Rhenish Mission.

The Bazaar, Kuala Kapuas. Chinese stores

Spoiler for :

Foto diatas dibuat antara tahun 1927-1943 oleh dr. Mattheus Carl Vischer. Foto ini menggambarkan suasana bantaran sungai Kapuas saat air pasang, disana tampak ada rumah, toko, dan tempat berlabuh.

Village on the river

Spoiler for :

Catatan terjemahan: Tempat berlabuh disebut “Batang”. Pada batang ini terdapat toilet dan tempat untuk mandi dan mencuci.
 
 
Update foto jadul Kabupaten Gunung Mas :

Spoiler for After hunting wild pigs on the Kahajan. (1927).:
Spoiler for A rest during the journey on the Rongan. Rongan (river) (We are going to enjoy roast pork) 1924:
Spoiler for Midday rest on the journey into Rongan. 1931:
Spoiler for Village street in Tewah 1931:
Spoiler for Batu Suli 1924:
Spoiler for Christian soldiers (Bataks from Sumatra) in Kwala Kuron. 1935:
Spoiler for Koeala Koeron Church with Rev. & Mrs Braun. 1929:

Update foto jadul Palangka Raya :

Spoiler for Village street in Pahandut 1929 (Mungkinkah ini yg jadi Jalan Kalimantan sekarang!?):
Spoiler for Pahandut modern Dayak house. 1924:
Spoiler for Mission school in Pahandut 1929.:
Spoiler for Pahandoet Abraham Badjas (oloh bakas) 1924:

Spoiler for Pahandut a dajak house 1929:
Spoiler for Pahandut. Landscape (in the background the Kahajan River). 1929.:

Update foto jadul Kabupaten Katingan :

Spoiler for Taking a rest between Kasongan and Sampit on the little River Hampalit 1925:
Spoiler for Tumbang Samba 1924:
Spoiler for Tumbang Samba 1924:
Spoiler for ‘Kawok-Toegal'(Tbg. Lahang) 1937.:

Update foto jadul Kabupaten Pulang Pisau :

Spoiler for Wedding couple and their party in Pangkoh. 1924:

Update foto jadul Kabupaten Murung Raya :

Spoiler for A flood in Puruk Tjahu. 1908:
Spoiler for Government building in Puruk-Tjahu 1908:
Spoiler for Mosque in Puruk Tjahu. 1928:
Spoiler for Puruk Tjahu 1908:
Spoiler for The village of Tumbang Nangu near Puruk Tjahu. 1908:
Spoiler for Waterfall near Puruk Tjahu 1908:

   QUOTE
   
 
Spoiler for Favorit foto:

Kotabesi, Kotim 1956
Update foto jadul Kabupaten Kapuas :

Spoiler for Dr Vischer in the motor boat Barimba. 1930:
 
 
 
Sumber : dari berbagai sumber

 

Istana Lawan…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 14, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: